Facebook in blogger Portal Pendidikan Indonesia: Perangkat Pembelajaran dan Media Agama Hindu
Showing posts with label Perangkat Pembelajaran dan Media Agama Hindu. Show all posts
Showing posts with label Perangkat Pembelajaran dan Media Agama Hindu. Show all posts

Wednesday, 1 October 2014

Sejarah Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit


Majapahit
Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo, Kepulauan Sulu, Manila (Saludung), hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.

Historiografi

Hanya terdapat sedikit bukti fisik sisa-sisa Majapahit, dan sejarahnya tidak jelas. Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah Pararaton ('Kitab Raja-raja') dalam bahasa Kawi dan Nagarakretagama dalam bahasa Jawa Kuno. Pararaton terutama menceritakan Ken Arok (pendiri Kerajaan Singhasari) namun juga memuat beberapa bagian pendek mengenai terbentuknya Majapahit. Sementara itu, Nagarakertagama merupakan puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Setelah masa itu, hal yang terjadi tidaklah jelas. Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuno maupun catatan sejarah dari Tiongkok dan negara-negara lain.
Keakuratan semua naskah berbahasa Jawa tersebut dipertentangkan. Tidak dapat disangkal bahwa sumber-sumber itu memuat unsur non-historis dan mitos. Beberapa sarjana seperti C.C. Berg menganggap semua naskah tersebut bukan catatan masa lalu, tetapi memiliki arti supernatural dalam hal dapat mengetahui masa depan. Namun demikian, banyak pula sarjana yang beranggapan bahwa garis besar sumber-sumber tersebut dapat diterima karena sejalan dengan catatan sejarah dari Tiongkok, khususnya daftar penguasa dan keadaan kerajaan yang tampak cukup pasti.

Sejarah Berdirinya Majapahit


Sesudah Singhasari mengusir Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290, Singhasari menjadi kerajaan paling kuat di wilayah tersebut. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi[9] ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya.
Kublai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293. Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut.
Ketika pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka berada di teritori asing.[11][12] Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka harus terpaksa menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.
Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu pada tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang terpercaya Kertarajasa, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil.
Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang terpercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati.[12] Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.
Anak dan penerus Wijaya, Jayanegara, adalah penguasa yang jahat dan amoral. Ia digelari Kala Gemet, yang berarti "penjahat lemah". Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi pendeta wanita. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Selama kekuasaan Tribhuwana, kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di daerah tersebut. Tribhuwana menguasai Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.

Kejayaan Majapahit

Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada, Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang,[2] menyebabkan runtuhnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya
Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina[13]. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja[14]. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok

Jatuhnya Majapahit

Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampaknya terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, dan pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.
Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.
Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki Nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat Nusantara.
Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.
Raja-raja Majapahit
Berikut adalah daftar penguasa Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok.
1. Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 - 1309)
2. Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (1309 - 1328)
3. Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 - 1350)
4. Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 - 1389)
5. Wikramawardhana (1389 - 1429)


6. Suhita (1429 - 1447)
7. Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (1447 - 1451)
8. Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (1451 - 1453)
9. Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (1456 - 1466)
10. Bhre Pandansalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (1466 - 1468)
11. Bhre Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 - 1478)
12. Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (1478 - 1498)
13. Hudhara, bergelar Brawijaya VII (1498-1518).

Sunday, 29 December 2013

Perangkat Pembelajaran Agama Hindu


RPP Pendidikan Agama Hindu


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN



Mata Pelajaran          : Pendidikan Agama Hindu
Kelas                           : X
Semester                     : II
Pertemuan                 : 7

Standar Kompetensi : (Susila) Memahami Sifat-sifat Triguna dan Dasamala
Kompetensi Dasar     : Mengurainan pengertian Triguna dan Dasa Mala, menjelaskan bagian-bagian Triguna dan Dasamala, mengidentifikasi pengaruh Triguna dan Dasamala terhadap kepribadian manusia.


Alokasi Waktu           : 8 X 45 menit
Indikator                    : a.   Menyebutkan pengertian dan bagian-bagian Triguna dan Dasa Mala.
b.      Menguraikan makna Triguna dan Dasa Mala Membedakan bagian-bagian Triguna dan Dasamala.
c.       Memberi contoh bagian-bagian Triguna dan Dasamala.
d.      Menyebutkan tanda-tanda pengaruh Triguna dan Dasamala.
e.       Memberi alasan tentang pengaruh Triguna dan Dasamala terhadap kepribadian manusia

Materi Pokok             : a.   Pengertian dan makna Triguna.
                                       b.   Pengertian dan makna Dasamala
                                       c.   Perbedaan bagian-bagian Triguna.
                                       d.   Perbedaan bagian-bagian dasamala
                                       e.   Pengaruh Triguna dan Dasamala terhadap kepribadian manusia.

Pendekatan                : -     Dilihat dari proses (Siswa Aktip)
                                       -     Dilihat dari materi (Contextual Teaching and learning(CTL)
Strategi                       : -     Pembelajaran dengan pemberian materi
                                       -     Pembelajaran dengan kerjasama kelompok
Metode                       : -     Ceramah
                                       -     Diskusi


Langkah-langkah :
A.    Kegiatan Awal (10’)
  1. Siswa diajak berdoa Trisandhya
  2. Guru menginformasikan kompetensi dasar, indicator dan deskripsi metode belajar yang akan diterapkan.
  3. Siswa menanggapi permasalahan atau wacana yang telah disiapkan guru, sehubungan dengan materi yang akan dipejari
  4. Prites untuk penjajagan

B.     Kegiatan Inti (60’)
1.      Guru menguraikan materi pelajaran
2.      Guru memberi pengarahan/penguatan/arahan

C.    Penutup (20’)
1.      Siswa diajak untuk menyimpulkan hasil belajar (sesuai indicator) ± 5’
2.      Refleksi dikaitkan dilapangan ± 3’
3.      Posttest ± 10’
4.      Tugas ± 2’
Sumber dan Media Belajar
  1. Sumber Belajar : (segala sumber yang dapat digunakan siswa agar terjadi perilaku belajar seperti: pesan, orang, bahan, alat, teknik/prosedur, dan latar)
Buku :
-    Ida Bagus Sudirga, dkk (2004), Widya Dharma Agama Hindu, pelajaran Agama Hindu, Penerbit: Ganeca Exact, Jakarta
-    Ida Bagus Sudirga, dkk (2007), Widya Dharma Agama Hindu, Pelajaran Agama Hindu, Penerbit: Ganeca Exact, Jakarta
-    Tim Penyusun (2007) Widya Upadesa Buku Pendidikan Agama Hindu Kelas X, Penerbit: Paramita, Surabaya
-     G. Pudja (1999) Bhagawadgita, Penerbit: Paramita, Surabaya
-    I Nyoman Kanjeng, dkk (1999) Saracamuscaya, Penerbit: Paramita, Surabaya
-    G. Pudja Tjokorda Rai Sudarta (2002)  Manawa Dharmasastra, Penerbit: CV. Felita Nursatama Lestari, Jakarta.
  1. Media Belajar : segala sesuatu yang direncanakan dan digunakan untuk mengirim pesan kepada penerima secara efektif sehingga memiliki daya retensi tinggi

Penilaian:
a.       Tes lisan
b.      Tes tertulis
c.       Tugas




Kepala SMA Negeri 1 Seputih Mataram




Hj. Nurlina, S. Pd., M. M. Pd
NIP. 19640414 199002 2 002

Seputih Mataram, 12 Juli 2010
Guru Mata Pelajaran




I Ketut Darma Wijaksana, S. Ag
NIP. 19840711 200902 1 004























RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN



Mata Pelajaran          : Pendidikan Agama Hindu
Kelas                           : X
Semester                     : II
Pertemuan                 : 8

Standar Kompetensi    :     (Susila) Memahami Sifat-sifat Triguna dan Dasamala
Kompetensi Dasar        :     Menunjukkan contoh-contoh prilaku yang dipengaruhi Triguna dan Dasamala dan melakukan upaya-upaya untuk menghindari pengaruh Dasamala.

Alokasi Waktu              :     2 X 45 menit
Indikator                       :     a.    Menggolongkan prilaku yang dipengaruhi Triguna dan Dasamala.
                                             b.   Menyajikan daftar/bagan prilaku yang dipengaruhi Triguna dan Dasamala